Pekat dan gelap kian menghampiriku malam ini
Sepi hening terus ku biarkan merayapi gelapku
Tergerogoti rasa kelam yang merasuki sukma
Menghempaskan keriuhan dengan kesenyapan
Malam Puncak Kegelisahan
Harapan Tak Berujung
Anak jalanan, melangkah tertatih di trotoar
Meratap menyimpan mimpi di lampu merah
Mengigil dengan tubuh yang semakin membiru
Terulas senyum getir diwajahnya yang pilu
Jiwa Yang Tersisih
Disudut dunia, dia tampak terpojok meratap
Diantara lentera usang yang menyala temaram
Semakin menambah kemalangan nasib yang menimpa
Senantiasa sepi dan duka selalu dirasakan
Bulir Rindu Di Sepotong Sajak
Tenggelam ditelaga jiwa merangkai rasa teruntai
Menuangkan risalah hati berpeluh meruntun makna
Bersembunyi dibalik kamar mengorek selaksa rindu
Terdekap cinta berselimut rasa menghangat dijiwa
Lara Hati
Berbagai kisah yang telah kita jalani
Kisah indah dilewati kebahagian bersamamu
Tetes air matapun selalu dirasakan bersama
Tapi itu hanya sebuah kisah yang dulu
Jiwa Mungil Yang Ku Rindu
Kala rindu menjelma dalam lekatnya anganku
Seakan menjelma dipelipis mataku yang merabun
Raut wajah mungil anakku penuh gelak kelucuan
Tangis teriaknya pun masih terngiang merdu
Rindu Yang Sempat Terkubur
Bagai tertimbun di dasar pemakaman rindu
Terjerat dalam kegelapan sebuah kesendirian
Melampan sukma hati yang sempat ku pendamkan
Lama meradang terkubur dari risalah cinta
Sujud Rinduku
Jiwaku terasa tenang kala telah menghadap-NYA
Menyimpuhkan diri ini bersujud diatas sejadah
Melantunkan lafadz suci dalam setiap rakaat
Untuk dapat menoktahkan setitik tinta Iman
Album Biru Ku
Pagi ini menyapaku dengan aura kesunyian
Cericit burung gerejapun seakan terbungkam
Hembusan angin pagi hanya berdesis lirih
Seakan penuh hening selalu setia menemaniku
Jangkar Cinta
Dulu dermaga hatiku sempat kau labuhi
Dengan kapal cintamu tanpa seutas jangkar
Ketika diterjang hebat gelombang ombak cinta
Hingga berlalu sudah kapalmu tak mampu bertambat




